ART di Bawah Umur Viral: Kronologi Kasus di Pekalongan dan Pelajaran untuk Para Majikan

ART di Bawah Umur Viral: Kronologi Kasus di Pekalongan dan Pelajaran untuk Para Majikan

ilustrasi kasus ART di bawah umur yang bekerja sebagai pekerja rumah tangga anak

Kasus ART di bawah umur kembali menjadi perhatian publik setelah sebuah laporan kekerasan terhadap pekerja rumah tangga anak di Pekalongan viral di media sosial. Peristiwa ini memicu diskusi tentang dua masalah yang masih sering terjadi di lapangan: pekerja di bawah umur dan sistem gaji yang tidak jelas (underpaid).

Padahal, mempekerjakan ART seharusnya dilakukan dengan proses yang aman dan jelas, baik bagi pekerja maupun bagi keluarga yang mempekerjakan.

Kronologi Kasus ART di Bawah Umur

Seorang anak perempuan di Pekalongan dilaporkan berhenti sekolah demi membantu ekonomi keluarganya. Ia kemudian bekerja sebagai asisten rumah tangga (ART) setelah dijanjikan gaji sekitar Rp1,5 juta per bulan oleh majikannya.

Korban mulai bekerja pada Oktober 2025. Namun tidak lama setelah bekerja, korban dituduh melakukan kesalahan dan mengalami kekerasan fisik dari majikannya. Dalam pengakuannya, korban mengaku dipukul hingga pingsan, bahkan mengalami kekerasan seksual dan diancam agar tidak menceritakan kejadian tersebut kepada siapa pun.

Kasus ini kemudian dilaporkan ke pihak kepolisian pada 19 November 2025. Namun proses penanganan baru berjalan beberapa bulan setelah laporan masuk. Saat ini korban masih mengalami trauma akibat kejadian tersebut.
Sumber: Kompas, 2026.

Masalah yang Sering Terjadi: Underage dan Underpaid

Kasus seperti ini kembali menyoroti praktik yang masih sering terjadi di masyarakat, yaitu mempekerjakan ART di bawah umur dan sistem pembayaran yang tidak jelas.

Banyak pekerja rumah tangga anak direkrut secara informal tanpa proses seleksi yang jelas. Dalam beberapa kasus, mereka dijanjikan gaji tertentu, tetapi tidak mendapatkan perlindungan kerja, jam kerja yang wajar, atau sistem pembayaran yang transparan.

Situasi seperti ini tentu berisiko bagi semua pihak. Bagi pekerja, mereka rentan mengalami eksploitasi. Sementara bagi keluarga yang mempekerjakan, hal ini juga dapat menimbulkan masalah hukum dan sosial.

Mengapa Majikan Tidak Boleh Mengambil ART Sembarangan

Banyak keluarga mencari ART melalui kenalan, rekomendasi, atau informasi dari media sosial tanpa proses verifikasi yang jelas. Padahal cara ini berisiko besar.

Beberapa risiko yang bisa terjadi antara lain:

  • Usia pekerja belum memenuhi batas legal kerja
  • Identitas dan latar belakang tidak jelas
  • Sistem gaji tidak disepakati dengan transparan
  • Tidak ada kontak keluarga yang bisa dihubungi saat keadaan darurat

Karena itu, penting memastikan bahwa pekerja yang datang ke rumah sudah cukup umur, memiliki identitas yang jelas, dan melalui proses seleksi yang benar.

Pentingnya Proses Rekrutmen yang Lebih Aman

Untuk menghindari kasus seperti ini, keluarga sebaiknya memastikan proses perekrutan ART dilakukan dengan lebih hati-hati.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan antara lain:

  • Memastikan usia pekerja sudah cukup umur untuk bekerja
  • Menyepakati gaji dan sistem kerja secara jelas sejak awal
  • Memiliki identitas dan kontak keluarga pekerja
  • Melalui proses wawancara dan seleksi yang transparan

Langkah-langkah ini penting agar hubungan kerja dapat berjalan dengan lebih aman, profesional, dan saling menghargai.

Ingin Menjadi atau Membutuhkan ART Infal?

Bagi pekerja yang ingin mendaftar sebagai ART infal Lebaran 2026, silakan hubungi admin kami di:
📞 0821-7777-1674 untuk informasi pendaftaran dan penempatan kerja.

Bagi keluarga yang membutuhkan ART infal dengan sistem kerja yang lebih aman dan terstruktur, konsultasikan kebutuhan Anda bersama tim CICANA di:
📞 0822-1111-3614

Ambil langkah lebih awal agar kebutuhan rumah tangga maupun peluang kerja dapat terpenuhi dengan lebih tenang, aman, dan profesional bersama CICANA.