Butuh ART tapi Selalu Tidak Cocok? Ini 4 Penyebab Utamanya
Butuh ART seharusnya membantu meringankan beban rumah tangga. Tapi bagi banyak keluarga, prosesnya justru melelahkan. Sudah beberapa kali ganti ART, tapi selalu berakhir dengan kesimpulan yang sama: “nggak cocok.”
Yang membuat frustrasi, ketidakcocokan ini sering terasa berulang dengan pola yang mirip—padahal orangnya berbeda.
Banyak majikan akhirnya menyalahkan faktor “nasib” atau “susah dapat orang bagus”. Padahal, dalam banyak kasus, ketidakcocokan ART bukan soal kualitas orangnya, melainkan cara kerja sama dibangun sejak awal. Berikut empat penyebab utama yang paling sering terjadi di rumah tangga Indonesia.
1. Ekspektasi Majikan Tidak Pernah Dibicarakan Secara Jelas
Banyak majikan merasa sudah menjelaskan tugas ART. Masalahnya, yang disampaikan sering masih berupa gambaran umum, bukan ekspektasi kerja yang konkret.
Misalnya:
- “Yang rajin dan sigap ya” (tanpa contoh konkret)
- “Bantu-bantu anak juga” (tanpa batasan peran)
- “Pokoknya rumah rapi” (tanpa standar yang jelas)
Di sisi majikan, ekspektasi ini terasa wajar. Tapi di sisi ART, kalimat seperti ini membuka ruang tafsir yang sangat luas. Akhirnya, ketika hasil kerja tidak sesuai harapan, majikan merasa ART “kurang inisiatif”, sementara ART merasa sudah bekerja sesuai kemampuannya.
Ketidakcocokan sering muncul bukan karena ART tidak mau bekerja, tetapi karena dua pihak bekerja dengan versi ekspektasi yang berbeda.
2. Jobdesc ART Terlalu Fleksibel Sampai Tidak Ada Batasnya
Ini salah satu penyebab paling umum ART tidak betah. Banyak ART masuk dengan jobdesc awal tertentu, lalu secara perlahan tugasnya bertambah tanpa pernah dibicarakan ulang.
Contoh yang sering terjadi:
- Awalnya ART fokus beberes, lalu mulai diminta momong anak
- Awalnya hanya urus rumah inti, lalu ikut mengurus keluarga lain
- Awalnya jam kerja jelas, lalu perlahan jadi “selalu siap”
Perubahan ini sering dianggap “hal kecil” oleh majikan karena terjadi bertahap. Namun bagi ART, akumulasi perubahan ini terasa besar. Ketika beban kerja bertambah tanpa ada penyesuaian ekspektasi atau komunikasi, ART cenderung merasa dimanfaatkan—dan memilih pergi.
Ketidakcocokan di sini bukan soal sikap, tetapi soal batas kerja yang tidak pernah disepakati ulang.
3. Terlalu Fokus ke “Cepat Dapat ART”, Lupa Proses Seleksi
Saat sedang butuh ART, banyak keluarga berada dalam kondisi terdesak. Rumah sudah kewalahan, anak butuh pendamping, pekerjaan menumpuk. Dalam kondisi ini, kecepatan sering menjadi prioritas utama.
Akibatnya:
- Wawancara dilakukan seadanya
- Pengalaman kerja tidak digali lebih dalam
- Karakter ART tidak dicocokkan dengan ritme rumah
Padahal, ART yang cocok bukan hanya yang “bisa kerja”, tetapi yang:
- cocok dengan tempo rumah (tenang vs dinamis),
- cocok dengan gaya komunikasi keluarga,
- dan siap dengan jenis tugas yang diminta.
Tanpa proses pencocokan ini, ART mungkin terlihat oke di awal, tapi ketidakcocokan baru terasa setelah masuk rutinitas harian.
4. Tidak Ada Sistem Evaluasi dan Jalan Keluar yang Jelas
Banyak majikan sebenarnya sudah merasa “kurang cocok” sejak awal, tapi memilih diam karena:
- tidak enak menegur,
- berharap nanti membaik,
- atau takut ribet cari ART baru.
Masalahnya, tanpa evaluasi awal dan jalur solusi yang jelas, ketidaknyamanan kecil bisa menumpuk. Ketika akhirnya keputusan diambil, kondisinya sudah terlalu panas—dan prosesnya jadi emosional.
Hubungan kerja yang sehat seharusnya punya:
- masa adaptasi yang disadari kedua pihak,
- ruang evaluasi tanpa saling menyalahkan,
- dan opsi solusi jika memang perlu pergantian.
Tanpa sistem ini, setiap ketidakcocokan terasa seperti kegagalan total.
Tidak Cocok Bukan Selalu Soal Orang, Tapi Soal Cara Memulai
Jika Anda butuh ART tapi selalu tidak cocok, besar kemungkinan masalahnya bukan pada orangnya, melainkan pada cara mencari, menyepakati, dan menjalani kerja sama sejak awal. Ekspektasi yang tidak dibicarakan, jobdesc yang kabur, seleksi terburu-buru, dan tidak adanya sistem evaluasi adalah kombinasi yang paling sering membuat ART cepat tidak bertahan.
Melalui Cicana, keluarga bisa mencari ART dengan proses yang lebih terstruktur—mulai dari profil yang jelas, kesepakatan kerja di awal, hingga pendampingan jika terjadi kendala. Dengan sistem yang lebih rapi, peluang cocok dan bertahan jangka panjang pun jauh lebih besar.
👉 Butuh ART? Cari di Cicana dan mulai dari sistem yang benar, bukan sekadar coba-coba. Konsultasi sekarang!
