5 Aturan Screen Time Anak di Rumah dengan Babysitter

5 Aturan Screen Time Anak di Rumah dengan Babysitter

screen time anak

Screen time anak sering menjadi sumber konflik kecil di rumah, terutama saat orang tua tidak selalu berada di rumah dan pengasuhan dibantu babysitter. Di satu sisi, gawai bisa menjadi alat bantu menenangkan anak. Di sisi lain, penggunaan tanpa aturan justru memicu masalah baru—anak jadi sulit lepas dari layar, emosi tidak stabil, dan interaksi sosial berkurang.

Masalahnya, banyak aturan screen time dibuat hanya untuk orang tua, bukan untuk babysitter yang menemani anak lebih lama dalam keseharian. Padahal, keberhasilan aturan screen time sangat bergantung pada konsistensi semua orang dewasa di rumah.

1. Jangan Mulai dari Durasi, Mulai dari Tujuan Screen Time

Screen time adalah waktu yang dihabiskan anak di depan layar, seperti menonton TV, bermain ponsel, tablet, atau gadget lain—baik untuk hiburan maupun belajar. Masalahnya, screen time sering dianggap sekadar “waktu nonton”, padahal dampaknya jauh lebih luas terhadap perkembangan anak. Kesalahan paling umum adalah langsung membatasi jam: “maksimal 1 jam sehari”. Padahal, riset menunjukkan bahwa kualitas konten dan konteks penggunaan jauh lebih berpengaruh dibanding sekadar durasi.

Menurut pedoman World Health Organization, anak usia dini membutuhkan interaksi aktif, bukan paparan pasif layar. Artinya, sebelum menentukan durasi, orang tua perlu menjelaskan ke babysitter:

  • screen time dipakai untuk apa (hiburan, belajar, atau transisi),
  • kapan boleh digunakan,
  • dan kapan tidak boleh sama sekali.

Dengan tujuan yang jelas, babysitter tidak menggunakan gawai sebagai “jalan pintas” setiap kali anak rewel.

2. Screen Time Tidak Boleh Jadi Alat Menenangkan Utama

Tips anti-mainstream yang sering diabaikan: anak yang selalu ditenangkan dengan layar akan sulit belajar menenangkan diri sendiri. Data menunjukkan bahwa penggunaan gawai sebagai alat regulasi emosi berisiko meningkatkan tantrum saat gawai dihentikan.

Karena itu, penting memberi babysitter alternatif yang jelas:

  • kegiatan fisik ringan,
  • permainan sensori,
  • atau rutinitas sederhana (membaca buku, menyusun mainan).

Bukan berarti screen time dilarang total, tetapi tidak dijadikan solusi utama setiap emosi anak naik.

3. Buat Aturan Screen Time yang Bisa Dipraktikkan Babysitter

Aturan yang terlalu ideal sering gagal di lapangan. Misalnya, “tidak boleh screen time sama sekali”, tetapi babysitter tidak diberi panduan menghadapi anak saat orang tua tidak ada.

Agar realistis, aturan screen time sebaiknya:

  • ditulis singkat dan jelas,
  • disesuaikan dengan jam kerja babysitter,
  • dan mudah dipatuhi dalam kondisi nyata.

Contoh aturan yang lebih aplikatif:
“Screen time hanya setelah tidur siang, maksimal satu tontonan, dan babysitter harus menemani.”

Aturan seperti ini lebih konsisten dijalankan dibanding larangan umum tanpa panduan.

4. Screen Time Harus Konsisten antara Orang Tua dan Babysitter

Salah satu penyebab aturan gagal adalah perbedaan pola antara orang tua dan babysitter. Anak cepat menangkap inkonsistensi. Jika babysitter dilarang memberi gawai, tetapi orang tua langsung memberi gawai saat pulang kerja, aturan akan runtuh.

Studi perkembangan anak menunjukkan bahwa konsistensi pengasuhan lebih penting daripada ketatnya aturan. Karena itu, orang tua dan babysitter perlu satu suara:

  • kapan screen time boleh,
  • kapan tidak,
  • dan apa konsekuensinya jika aturan dilanggar.

Ini bukan soal siapa yang lebih berkuasa, tetapi soal pesan yang konsisten ke anak.

5. Bekali Babysitter dengan Skill Mengelola Screen Time, Bukan Sekadar Larangan

Salah satu alasan aturan screen time sering gagal adalah karena babysitter tidak pernah dibekali keterampilan mengelola anak tanpa layar. Tanpa bekal yang cukup, babysitter cenderung memilih cara paling aman dan cepat—memberi gadget—terutama saat anak rewel atau sulit dialihkan.

Padahal, pengelolaan screen time adalah bagian dari keterampilan babysitting, bukan sekadar kepatuhan aturan. Babysitter perlu memahami:

  • cara mengalihkan perhatian anak tanpa memicu konflik,
  • teknik menghadapi emosi anak saat screen time dihentikan,
  • dan bagaimana membangun rutinitas harian yang minim ketergantungan layar.

Inilah alasan mengapa pelatihan babysitter menjadi penting, bukan hanya untuk kepentingan orang tua, tetapi juga agar babysitter lebih percaya diri dan konsisten menjalankan pola asuh di rumah.

Melalui kelas pelatihan Babysitting di School of ART Cicana, babysitter dibekali pemahaman praktis tentang pengasuhan anak, termasuk pengelolaan screen time yang sehat dan realistis sesuai kondisi rumah tangga.

Aturan Screen Time Lebih Efektif Jika Babysitter Punya Bekal yang Tepat

Aturan screen time anak akan lebih efektif jika babysitter tidak hanya mengikuti larangan, tetapi memahami cara mengelola anak tanpa bergantung pada layar. Konsistensi antara orang tua dan babysitter menjadi kunci agar aturan benar-benar berjalan di rumah.

Untuk itu, membekali babysitter dengan keterampilan pengasuhan yang tepat sangat membantu. Kelas pelatihan Babysitting di School of ART Cicana dirancang untuk membantu babysitter memahami pola asuh, termasuk pengelolaan screen time anak secara sehat dan realistis.

👉 Cari tahu kelas Babysitting School of ART Cicana untuk pengasuhan anak yang lebih sejalan di rumah. Cek disini!