Cara Mengajarkan Anak Puasa Pertama: Belajar dari Atta Halilintar dan Ameena
Mengajarkan anak puasa pertama bukan sekadar soal menahan lapar dan haus. Bagi banyak orang tua, ini adalah momen untuk mulai memperkenalkan makna ibadah, empati, dan rasa syukur sejak dini. Hal inilah yang juga dilakukan oleh Atta Halilintar saat putri sulungnya, Ameena Hanna Nur Atta, mulai mencoba berpuasa di bulan Ramadan.
Atta mengaku merasa bangga karena Ameena menunjukkan semangat untuk ikut berpuasa, meskipun usianya masih kecil dan belum memiliki kewajiban menjalankannya.
“Alhamdulillah kalau anak-anak udah mau puasa. Apalagi ini salah satu kewajiban sebagai umat Muslim,” ujar Atta saat berbincang dengan media.
Ia juga menegaskan bahwa dirinya tidak pernah memaksa sang anak.
“Walaupun dia belum wajib karena umurnya masih kecil, tapi dengan dia mau belajar, mau ikutan puasa, aku seneng banget.”
Dari pengalaman tersebut, ada beberapa pelajaran penting yang bisa diterapkan orang tua saat mengajarkan anak puasa pertama.
1. Jangan Memaksa, Biarkan Anak Punya Kesadaran Sendiri
Salah satu kunci yang disampaikan Atta adalah tidak memaksa. Anak yang masih kecil belum memiliki kewajiban berpuasa penuh, sehingga prosesnya harus bersifat pembelajaran, bukan tekanan.
Ketika anak merasa punya pilihan dan bukan dipaksa, motivasi mereka biasanya muncul dari dalam diri. Ini jauh lebih efektif untuk jangka panjang dibanding pendekatan yang keras.
Tips yang bisa dilakukan:
- Ajak anak melihat orang tua berpuasa dengan semangat
- Beri pilihan untuk mencoba setengah hari terlebih dahulu
- Hindari kalimat bernada mengancam jika anak tidak kuat
Anak yang merasa dihargai akan lebih mudah belajar.
2. Mulai dengan Puasa Setengah Hari
Ameena menjalani puasa dari pagi hingga sore, atau sekitar setengah hari. Bagi anak kecil, ini sudah menjadi tantangan besar. Atta pun menyadari bahwa rasa lapar membuat Ameena sempat rewel.
“Dia cranky terus, karena mungkin dia puasa setengah hari kan lumayan tuh lapernya biasa,” ungkap Atta.
Ini menunjukkan bahwa rewel adalah hal yang wajar dalam proses belajar puasa. Tubuh anak masih beradaptasi, dan emosi mereka belum stabil sepenuhnya.
Orang tua bisa:
- Mulai dari puasa 3–4 jam terlebih dahulu
- Naikkan durasi secara bertahap
- Pastikan asupan sahur cukup bergizi
- Beri waktu istirahat agar energi tidak cepat habis
Pendekatan bertahap membantu anak merasa berhasil, bukan gagal.
3. Jelaskan Makna Menahan Hawa Nafsu dengan Bahasa Sederhana
Ketika Ameena mulai rewel karena lapar, Atta tidak sekadar menyuruhnya bertahan. Ia menjelaskan bahwa puasa adalah latihan menahan hawa nafsu dan belajar mengontrol diri.
“Aku ajarin bulan puasa ini menahan nafsu, menahan lapar…”
Penjelasan ini penting agar anak memahami bahwa puasa bukan sekadar tidak makan, tetapi latihan karakter.
Orang tua bisa menjelaskan dengan contoh sederhana:
- Menahan keinginan ngemil
- Bersabar menunggu waktu berbuka
- Mengontrol emosi saat merasa tidak nyaman
Dengan begitu, anak belajar bahwa puasa juga melatih kesabaran.
Baca Artikel terkait lainnya: Cara Arumi Bachsin Atur Sahur dan Buka Puasa untuk Keluarga Tanpa Panik
4. Tanamkan Rasa Empati dan Kepedulian Sosial
Salah satu pesan yang ditekankan Atta adalah mengajarkan kepedulian terhadap sesama yang kurang beruntung.
“…biar dia peduli sama teman-teman kita di luar sana yang kurang mampu.”
Mengaitkan puasa dengan empati membuat anak memahami bahwa ada orang yang merasakan lapar bukan karena ibadah, tetapi karena keterbatasan.
Cara mengajarkan empati:
- Ajak anak berbagi makanan saat berbuka
- Ceritakan tentang pentingnya bersedekah
- Libatkan anak saat memberi bantuan kepada yang membutuhkan
Nilai ini sering kali lebih melekat dibanding sekadar aturan puasa.
5. Tanamkan Rasa Syukur Sejak Dini
Atta juga menekankan pentingnya rasa syukur dalam proses belajar puasa.
“Biar kepedulian ke sesamanya tumbuh dan bisa bersyukur apa yang Tuhan kasih sama dia.”
Dengan memahami bahwa makanan dan rezeki adalah nikmat, anak akan lebih menghargai apa yang dimilikinya. Puasa menjadi sarana membentuk karakter, bukan hanya rutinitas tahunan.
Orang tua bisa membangun rasa syukur dengan:
- Mengajak anak berdoa sebelum berbuka
- Mengingatkan bahwa tidak semua orang memiliki makanan cukup
- Mengapresiasi usaha anak dalam belajar puasa
Puasa Pertama Anak adalah Proses, Bukan Target
Pengalaman Atta Halilintar mengajarkan bahwa puasa pertama anak bukan soal berhasil seharian penuh, tetapi tentang proses belajar. Tidak memaksa, memberi pemahaman, dan menanamkan empati serta rasa syukur menjadi kunci utama.
Jika orang tua ingin lebih fokus mendampingi anak belajar puasa tanpa terbebani urusan rumah tangga selama Ramadan, Anda bisa mencari ART atau babysitter profesional melalui Cicana.
👉 Cari ART atau babysitter di Cicana sekarang dan konsultasikan kebutuhan keluarga melalui WhatsApp admin di 0822-1111-3614, agar momen Ramadhan bersama anak bisa lebih tenang dan bermakna.
