Bingung Atur Cuti ART? Ini 5 Kesalahan yang Harus Dihindari

Bingung Atur Cuti ART? Ini 5 Kesalahan yang Harus Dihindari

cuti art

Mengatur cuti Asisten Rumah Tangga (ART) seringkali menjadi dilema bagi banyak majikan. Di satu sisi, cuti adalah hak yang layak diberikan sebagai bentuk apresiasi atas kerja keras dan loyalitas ART. Namun di sisi lain, jika tidak diatur dengan sistem yang jelas, cuti bisa menimbulkan masalah: ART menjadi kurang disiplin, pulang tanpa kepastian kembali, atau bahkan berhenti tanpa pemberitahuan.

Agar hak tetap dihormati dan rumah tangga tetap berjalan stabil, berikut 5 kesalahan dalam mengatur cuti ART yang wajib Anda hindari.

1. Tidak Menyusun Aturan Cuti Secara Tertulis

Kesalahan paling umum adalah tidak membicarakan aturan cuti sejak awal masa kerja. Banyak majikan merasa sungkan membahas cuti karena takut dianggap terlalu kaku atau tidak percaya. Padahal justru sebaliknya aturan yang jelas adalah fondasi hubungan kerja yang profesional dan sehat.

Tanpa perjanjian tertulis, cuti seringkali menjadi sumber salah paham. Misalnya:

  • Berapa hari jatah cuti per tahun?
  • Apakah boleh diambil sekaligus?
  • Apa konsekuensi jika kembali terlambat?

Solusinya, buatlah perjanjian kerja tertulis yang mencantumkan:

  • Hak cuti tahunan
  • Durasi maksimal cuti dalam sekali pengambilan
  • Ketentuan konfirmasi sebelum kembali
  • Konsekuensi keterlambatan

Dengan sistem yang jelas sejak awal, majikan merasa aman dan ART pun tahu batasan serta haknya.

2. Tidak Mengarahkan Waktu Pengambilan Cuti dengan Bijak

Kesalahan berikutnya adalah membiarkan ART menentukan waktu cuti secara sepihak tanpa diskusi. Contoh yang sering terjadi: ART tiba-tiba meminta pulang kampung menjelang Lebaran, padahal keluarga majikan sedang sangat membutuhkan bantuan tambahan di rumah.

Jika tidak direncanakan, kondisi ini bisa membuat rumah tangga kewalahan.

Idealnya:

  • Rencanakan cuti jauh-jauh hari.
  • Diskusikan waktu yang tidak terlalu sibuk.
  • Tentukan periode cuti yang disepakati bersama.

Cuti tetap bisa diberikan tanpa mengorbankan stabilitas rumah. Kuncinya adalah komunikasi dua arah dan perencanaan matang.

3. Tidak Menawarkan Opsi Cuti Diuangkan

Tidak semua ART ingin mengambil cuti setiap tahun. Ada yang memilih tetap bekerja karena alasan ekonomi atau tidak ingin mengeluarkan biaya pulang kampung.

Namun sebagian majikan justru memaksa ART untuk tetap mengambil cuti dengan alasan “itu sudah haknya.” Padahal, fleksibilitas bisa menjadi solusi terbaik.

Opsi cuti diuangkan bisa menjadi jalan tengah:

  • Jika ART tidak mengambil jatah cuti, ia mendapatkan kompensasi sesuai kesepakatan.
  • Rumah tetap berjalan tanpa gangguan.
  • ART merasa dihargai secara finansial.

Namun penting untuk dicatat: kebijakan ini harus tertulis dalam kontrak kerja agar tidak menimbulkan konflik di kemudian hari.

4. Membiarkan ART Pulang Tanpa Tenggat Waktu yang Jelas

Banyak kasus ART izin pulang “beberapa hari” tetapi kembali setelah berminggu-minggu tanpa kabar. Hal ini sering terjadi karena sejak awal tidak ada tanggal pasti yang disepakati.

Kalimat seperti “Cepat balik ya” tidak cukup kuat secara komitmen kerja.

Agar profesional:

  • Tentukan tanggal kembali secara spesifik.
  • Minta konfirmasi minimal 1–2 hari sebelum kembali.
  • Tetapkan aturan bahwa keterlambatan tanpa kabar lebih dari batas tertentu dianggap mengundurkan diri.

Ketegasan bukan berarti tidak manusiawi. Justru ini bentuk profesionalisme yang melindungi kedua belah pihak.

5. Memberikan Gaji Penuh Saat Cuti Tanpa Jaminan ART Kembali

Ini adalah kesalahan paling berisiko. Banyak majikan memberikan gaji penuh saat ART izin cuti panjang, terutama menjelang mudik. Niatnya baik, ingin menghargai dan menjaga hubungan baik.

Namun tanpa sistem yang jelas, ini bisa menjadi bumerang. ART yang sudah menerima gaji penuh bisa saja tidak kembali atau berhenti tanpa pemberitahuan.

Strategi yang lebih aman:

  • Terapkan potong gaji selama masa cuti.
  • Atau bayarkan sebagian (misalnya 50%) saat berangkat.
  • Sisanya dibayarkan setelah ART kembali tepat waktu.

Beberapa konsultan rumah tangga seperti Cicana bahkan menyarankan agar cuti tidak dijadwalkan di akhir bulan atau setelah ART menerima gaji. Memberikan cuti di pertengahan bulan bisa menjadi langkah lebih aman, karena ART memiliki motivasi untuk kembali bekerja dan menerima sisa haknya.

Cuti ART Bisa Diatur Tanpa Bikin ART Kabur

Mengatur cuti ART bukan tentang menjadi majikan yang keras, melainkan tentang membangun sistem kerja yang sehat, adil, dan profesional.

Dengan:

  • Aturan tertulis
  • Komunikasi terbuka
  • Tenggat waktu yang jelas
  • Sistem pembayaran yang bijak

Anda bisa menjaga stabilitas rumah tangga sekaligus mempertahankan loyalitas ART.

Jika Anda ingin menyusun aturan kerja ART yang lebih profesional dan minim risiko, termasuk sistem cuti yang aman dan adil, Cicana siap membantu Anda.

Ingin tahu seperti apa kebijakan kerja yang lebih aman untuk rumah tangga Anda?
Konsultasikan sekarang dan hubungi admin kami di 0822-1111-3614 mendapatkan tips seputar pengelolaan ART yang profesional dan terpercaya.

 

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *