ART Baru Selalu Tidak Bertahan Lama? Coba Evaluasi 5 Hal Ini!
ART Baru yang tidak bertahan lama bukan hanya melelahkan secara emosional, tetapi juga menguras waktu dan biaya karena proses rekrutmen harus diulang. Banyak majikan mengira penyebabnya selalu ada pada pekerja––padahal sering kali sumber masalah justru tersembunyi dalam pola komunikasi, aturan, hingga ritme kerja di rumah itu sendiri. Menariknya, berbagai studi psikologi kerja menunjukkan bahwa adaptasi seseorang pada lingkungan baru bukan ditentukan oleh skill, tetapi kecocokan sosial dan kejelasan peran yang ia terima sejak hari pertama.
Artikel ini membahas 5 faktor anti mainstream yang jarang dievaluasi, tetapi justru sangat memengaruhi mengapa ART cepat resign atau tidak betah bekerja lama.
1. Ritme Rumah yang Berubah-Ubah: “Emosi Majikan Jadi Jam Kerja Terselubung”
Banyak majikan tidak sadar bahwa ritme rumah yang tidak konsisten membuat ART mudah stres. Sebuah riset dari Journal of Occupational Health menyebutkan bahwa ketidakpastian jadwal adalah pemicu utama burnout bagi pekerja domestik.
Jika jam makan, jam bangun anak, atau rutinitas harian sering berubah karena mood majikan, ART akan merasa “selalu salah waktu.” Ini bukan soal beban kerja, tetapi soal kehilangan kendali. Berikan ritme yang stabil setidaknya 10 hari pertama agar ia merasa aman secara psikologis.
2. Tidak Ada “Map Pekerjaan” Visual: Otak Manusia Lebih Mudah Merekam Gambar daripada Instruksi Lisan
Banyak majikan hanya memberi instruksi lewat kata-kata. Padahal menurut penelitian Stanford University, otak menyimpan informasi visual 6 kali lebih cepat dibandingkan perintah verbal.
Buat checklist visual sederhana: layout dapur, cara menata lemari, jadwal cuci, area prioritas bersih, hingga foto kondisi ideal rumah. Hal sederhana ini membuat ART lebih percaya diri dan mempercepat masa adaptasi tanpa harus ditegur berkali-kali.
3. Majikan Tidak Memberi “Social Warmth”: Faktor Nomor Satu Agar ART Betah Menurut Riset Harvard
Studi Harvard (2023) menunjukkan bahwa pekerja bertahan lebih lama ketika merasa “human connection” dari atasan—bukan ketika gajinya tinggi.
Social warmth ini bukan berarti harus akrab atau dekat berlebihan. Tetapi cukup:
- Menyebut nama ART setiap bicara
- Mengucapkan “terima kasih” pada momen kecil
- Menyapa paginya
- Memberi umpan balik positif minimal sekali seminggu
Gestur ini menciptakan sense of belonging. Tanpanya, ART merasa sekadar “alat kerja”—dan cepat ingin pulang.
4. Rumah Tidak Punya “Zona Tenang”: Faktor Psikologis yang Sering Diremehkan
ART tinggal dan bekerja di tempat yang sama. Jika rumah terlalu bising, penuh konflik kecil, atau tidak ada area di mana ia bisa “mengatur napas,” ia cenderung lelah secara mental.
Sociological Research Institute menyebutkan bahwa pekerja domestik membutuhkan ruang privat minimal 30 menit/hari untuk menjaga regulasi emosi. Ini bukan soal kamar yang bagus, tetapi kesempatan untuk memulihkan diri.
Beri ia ruang untuk duduk diam tanpa gangguan setelah pekerjaan puncak selesai—misalnya setelah makan siang atau setelah anak tidur.
5. Tidak Ada “Expectation Alignment Talk” di Hari Pertama
Majikan biasanya menjelaskan tugas, tetapi jarang menjelaskan ekspektasi emosional dan nilai rumah. Padahal ini yang paling menentukan kecocokan jangka panjang.
Kita bisa lakukan percakapan singkat sejak hari pertama:
- Apa nilai penting di rumah (kebersihan, ketenangan, ketepatan waktu)
- Apa gaya komunikasi yang disukai (langsung, halus, tertulis)
- Apa hal yang tidak boleh dilanggar
- Bagaimana cara melapor jika ART bingung
Percakapan 15 menit ini dapat mengurangi konflik hingga 60% menurut penelitian Adler University.
Pekerja Betah Bukan Kebetulan, Tapi Hasil dari Lingkungan yang Nyaman
Stabilnya pekerja di rumah bukan sekadar karena kondisi kerja, tetapi karena sistem yang Anda bangun. Bila ART Baru selalu tidak bertahan lama, mungkin saatnya mengevaluasi bukan hanya pekerjanya, tetapi pola komunikasi, ritme, dan struktur rumah Anda.
Ingin panduan lengkap agar tidak salah memilih ART lagi?
Dapatkan E-book The Art of Choosing ART dari Cicana – panduan paling praktis dan realistis untuk memahami karakter pekerja, merumuskan jobdesc, hingga teknik interview yang benar-benar bekerja.
