7 Tips Memilih ART yang Sesuai untuk Keluarga
Memilih ART yang sesuai dengan kebutuhan keluarga bukan hanya soal menemukan orang yang punya banyak pengalaman. Yang tidak kalah penting adalah memastikan kemampuan, pengalaman, dan cara kerja ART bisa mengikuti kebutuhan serta kebiasaan keluarga di rumah.
Ada keluarga yang mendapatkan ART berpengalaman, tetapi tetap merasa kurang cocok setelah beberapa minggu. Sebaliknya, ada juga ART dengan pengalaman yang tidak terlalu panjang tetapi justru bisa mengikuti ritme rumah dengan baik.
Jadi, sebelum bertanya “ART ini bisa apa?”, coba ubah pertanyaannya menjadi:
“ART ini cocok tidak dengan cara keluarga saya menjalani hari?”
Berikut beberapa hal yang bisa Buibu perhatikan saat memilih ART yang sesuai dengan kebutuhan keluarga.
1. Jangan Hanya Tanya “Sudah Berapa Lama Jadi ART?”
Lama pengalaman memang bisa menjadi pertimbangan, tetapi jumlah tahun bekerja tidak otomatis menunjukkan kecocokan dengan kebutuhan keluarga.
Misalnya, calon ART sudah memiliki pengalaman selama lima tahun. Namun, selama ini ia bekerja di rumah tanpa anak kecil dan lebih banyak mengerjakan pekerjaan bersih-bersih.
Sementara itu, Buibu membutuhkan ART yang juga bisa memasak dan membantu mengurus anak. Artinya, pengalaman lima tahun tersebut belum tentu lebih relevan dibandingkan kandidat dengan pengalaman yang lebih singkat tetapi pernah menangani pekerjaan yang sesuai.
Karena itu, saat mencari ART, jangan hanya tanyakan:
“Sudah berapa lama bekerja sebagai ART?”
Coba gali juga:
- Sebelumnya bekerja di rumah seperti apa?
- Berapa jumlah anggota keluarga di rumah tersebut?
- Apakah ada anak kecil atau lansia?
- Apa saja pekerjaan yang menjadi tanggung jawabnya?
- Apakah terbiasa memasak?
- Apakah terbiasa menggunakan peralatan rumah tangga tertentu?
Yang perlu dilihat bukan hanya berapa lama pengalaman calon ART, tetapi pengalaman seperti apa yang pernah dijalani.
2. Cocokkan Kemampuan ART dengan Kebutuhan Rumah
Sebelum mulai mencari, sebaiknya Buibu sudah tahu pekerjaan apa yang memang membutuhkan bantuan.
Coba bagi kebutuhan menjadi tiga kategori:
Wajib bisa
Pekerjaan yang harus dapat dilakukan karena merupakan kebutuhan utama keluarga.
Bisa dipelajari
Pekerjaan yang belum dikuasai tetapi masih memungkinkan untuk diajarkan.
Tidak dibutuhkan
Kemampuan yang sebenarnya tidak terlalu relevan dengan kondisi rumah.
Misalnya, keluarga Buibu jarang memasak karena lebih sering membeli makanan. Artinya, kemampuan memasak mungkin tidak perlu menjadi kriteria utama.
Sebaliknya, jika Buibu memiliki anak kecil dan membutuhkan bantuan menyiapkan makanan keluarga, kemampuan memasak bisa menjadi pertimbangan penting.
Dengan cara ini, Buibu tidak perlu mencari ART yang “bisa semuanya”. Yang dicari adalah ART yang kemampuan utamanya sesuai dengan kebutuhan keluarga.
3. Jangan Berhenti di Pertanyaan “Bisa atau Tidak”
Salah satu kesalahan saat interview adalah terlalu banyak menggunakan pertanyaan tertutup.
Misalnya:
“Bisa masak?”
“Bisa mencuci?”
“Bisa mengurus anak?”
Dari jawaban pertanyaan tersebut, Buibu belum mendapatkan banyak informasi. Coba ubah pertanyaannya menjadi lebih spesifik dan berbasis situasi.
Misalnya:
- “Biasanya masak menu apa untuk keluarga?”
- “Kalau diminta memasak menu yang belum pernah dibuat, biasanya bagaimana?”
- “Sebelumnya pernah mengurus anak usia berapa?”
Pertanyaan seperti ini dapat membantu Buibu melihat seberapa konkret pengalaman calon ART, bukan hanya kemampuan yang ia klaim.
Semakin spesifik jawabannya, semakin mudah bagi Buibu membandingkannya dengan kebutuhan keluarga.
4. Perhatikan Cara Calon ART Menerima Instruksi
Skill bisa dipelajari, tetapi kemampuan berkomunikasi dan menerima arahan juga penting untuk diperhatikan. Setiap keluarga bisa memiliki kebiasaan yang berbeda. Cara membersihkan rumah, menyimpan makanan, mencuci pakaian, sampai menata barang belum tentu sama dengan tempat kerja sebelumnya.
Karena itu, Buibu bisa memberikan contoh situasi:
“Kalau di rumah saya ada cara tertentu untuk membersihkan atau menyimpan barang, apakah bersedia mengikuti cara tersebut?”
Yang perlu diperhatikan bukan apakah calon ART langsung mengetahui semua caranya. Justru lihat bagaimana ia merespons ketika diberi arahan. Apakah ia mau bertanya ketika belum memahami? Bisakah ART terbuka terhadap cara kerja yang berbeda? Apakah Buibu merasa cukup nyaman berkomunikasi dengannya?
Tujuannya bukan mencari kandidat yang selalu mengiyakan, tetapi seseorang yang bisa diajak berkomunikasi mengenai pekerjaan dengan jelas.
5. Gali Pengalaman dengan Pertanyaan yang Konkret
Saat interview, calon ART mungkin mengatakan dirinya sudah terbiasa mengurus rumah atau memiliki pengalaman bekerja di beberapa keluarga.
Daripada hanya mencatat informasi tersebut, Buibu bisa menggali lebih dalam melalui cerita atau situasi yang pernah dialami.
Contohnya:
- “Biasanya kalau pagi, pekerjaan pertama yang dilakukan apa?”
- “Dalam pekerjaan sebelumnya, pekerjaan apa yang paling sering dilakukan?”
- “Kalau rumah sedang banyak pekerjaan, bagaimana biasanya membaginya?”
- “Pernah ada pekerjaan yang belum pernah dilakukan sebelumnya? Waktu itu bagaimana cara mempelajarinya?”
Perhatikan apakah calon ART dapat memberikan contoh yang konkret atau jawabannya masih sangat umum.
Ini bukan berarti jawaban yang singkat otomatis menunjukkan pengalaman yang kurang. Namun, pertanyaan yang lebih spesifik membantu Buibu mendapatkan gambaran yang lebih nyata tentang pengalaman kerja sebelumnya.
6. Bahas Hal-Hal yang Sering Dianggap “Nanti Saja”
Banyak ketidakcocokan sebenarnya bukan karena calon ART tidak bisa bekerja, tetapi karena ekspektasi kedua pihak berbeda sejak awal.
Karena itu, jangan menunggu sampai ART mulai bekerja untuk membicarakan hal-hal penting.
Sebelum memilih, pastikan sudah ada pembicaraan mengenai:
- Jobdesk utama
- Sistem kerja: pulang-pergi atau menginap
- Jam kerja
- Hari libur
- Gaji dan fasilitas
- Pekerjaan tambahan jika diperlukan
- Aturan penting yang berlaku di rumah
Misalnya, Buibu membutuhkan ART yang juga membantu menjaga anak sesekali. Hal tersebut sebaiknya dibicarakan sejak awal, bukan baru disampaikan setelah ART mulai bekerja.
Begitu juga dengan sistem menginap, jam kerja, atau pekerjaan tambahan. Semakin jelas ekspektasi sejak awal, semakin kecil kemungkinan muncul asumsi yang berbeda setelah ART mulai bekerja.
7. Jangan Mencari ART yang Paling “Sempurna”, Cari yang Paling Sesuai
Pada akhirnya, memilh ART bukan tentang menemukan kandidat dengan pengalaman paling panjang, kemampuan paling banyak, atau jawaban interview yang paling meyakinkan. Yang paling penting adalah kecocokan dengan kebutuhan keluarga.
Sebelum menentukan pilihan, Buibu bisa mengevaluasi calon ART dengan tiga pertanyaan sederhana:
Bisa?
Apakah kemampuan dasarnya sesuai dengan pekerjaan yang dibutuhkan?
Sesuai?
Apakah pengalaman sebelumnya relevan dengan kondisi rumah Buibu?
Bisa dikomunikasikan?
Apakah jobdesk, aturan, dan ekspektasi dapat dibicarakan dengan jelas?
Jika ketiga hal tersebut sudah terpenuhi, Buibu memiliki dasar yang lebih kuat untuk menentukan pilihan.
Masih Bingung Memilih ART yang Tepat?
Cari ART memang membutuhkan pertimbangan, terutama karena setiap keluarga punya kebutuhan dan rutinitas yang berbeda.
Kalau Buibu masih bingung mulai dari mana, ebook “The Art of Choosing ART” dari Cicana bisa membantu Buibu memahami cara memilih ART dengan lebih terarah, mulai dari menentukan kebutuhan keluarga hingga mempertimbangkan kandidat yang sesuai. Cek e-booknya disini!
Sudah siap cari ART yang lebih sesuai untuk keluarga? Mulai dari Cicana!
